Panduan Shalat

Sholat Istikharah: Niat, Tata Cara, Doa Arab Latin Arti

Sholat istikharah adalah sholat sunnah dua rakaat untuk memohon petunjuk Allah saat menghadapi pilihan yang mubah. Artikel ini memuat niat, tata cara, bacaan, doa Arab-latin-arti, dan tips setelah istikharah menurut rujukan NU Online.

Redaksi Kuttab | | Diperbarui | 5 menit baca
Sholat Istikharah: Niat, Tata Cara, Doa Arab Latin Arti

Sholat istikharah adalah sholat sunnah dua rakaat yang dikerjakan ketika seorang Muslim menghadapi pilihan yang mubah dan sulit diputuskan — misalnya jodoh, pekerjaan, kampus, atau urusan bisnis yang halal. Intinya: memohon agar Allah memilihkan yang terbaik untuk agama, dunia, dan akhir urusan kita.

Artikel ini merangkum niat, tata cara, doa (Arab, latin, arti), dan sikap setelah istikharah, dengan rujukan utama NU Online (hadits Jabir dalam Al-Bukhari, Al-Adzkar Imam An-Nawawi, Nihayatuz Zain Syekh Nawawi Banten). Untuk bacaan sholat secara umum, lihat juga bacaan sholat lengkap.

Apa Itu Sholat Istikharah?

Istikharah secara bahasa berarti memohon pilihan yang terbaik. Dalam ibadah, sholat istikharah adalah sholat sunnah non-fardhu dua rakaat, dilanjutkan doa khusus memohon agar Allah mudahkan yang baik dan jauhkan yang buruk.

Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar, dikutip NU Online, merujuk hadits Jabir bin Abdillah: Rasulullah mengajarkan istikharah dalam segala urusan sebagaimana mengajarkan surat Al-Qur'an. Beliau bersabda (makna): jika seseorang bermaksud suatu urusan, hendaklah sholat sunnah dua rakaat selain fardhu, lalu berdoa… (HR. Al-Bukhari).

Kapan Boleh dan Tidak Boleh Istikharah?

Istikharah untuk perkara yang mubah atau pilihan sunnah yang sama-sama boleh — bukan untuk memutuskan apakah sholat wajib dikerjakan atau tidak, dan bukan untuk perkara yang sudah jelas haram (mencuri, zina, riba, dan sejenisnya). NU Online menekankan: tidak perlu istikharah apakah akan sholat atau tidak.

Contoh yang cocok: memilih pasangan, tawaran kerja, pindah kota, ambil pinjaman halal, buka usaha, pilih jurusan/kampus.

Niat Sholat Istikharah

Niat tempatnya di hati sebelum takbiratul ihram. Lafal berikut umum diajarkan (NU Online):

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْاِسْتِخَارَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Ushallî sunnatal istikhârati rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: Aku berniat sholat sunnah istikharah dua rakaat karena Allah Ta‘ala.

Melafalkan niat membantu konsentrasi, terutama bagi yang masih belajar; inti niat tetap kesadaran hati. Prinsip yang sama dipakai pada niat sholat Dhuha dan sholat sunnah lain.

Tata Cara Sholat Istikharah 2 Rakaat

  1. Bersuci (wudhu), menghadap kiblat, hadirkan niat.
  2. Takbiratul ihram, doa iftitah (jika biasa), Al-Fatihah.
  3. Rakaat 1: setelah Al-Fatihah, dianjurkan Surat Al-Kafirun (Imam Al-Ghazali dalam Ihya’, dikutip NU Online). Boleh surat lain yang sudah dikuasai.
  4. Ruku, i‘tidal, sujud, duduk, sujud, berdiri.
  5. Rakaat 2: Al-Fatihah + dianjurkan Surat Al-Ikhlas, lalu ruku–sujud–tasyahud–salam.
  6. Setelah salam, baca doa istikharah; sebutkan hajat/pilihan di tempat yang disediakan dalam doa.

Gerakan sholat sama dengan sholat sunnah biasa. Yang membedakan: niat istikharah dan doa setelah salam.

Doa Sholat Istikharah: Arab, Latin, Arti

Berikut doa yang dinukil NU Online dari Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain (asal hadits Jabir, HR. Al-Bukhari). Di tempat “hadzal amr” sebutkan urusan Anda:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ

اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ -وَيُسَمَّى حَاجَتَهُ- خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِيْ بِهِ

Latin:
Allâhumma innî astakhîruka bi ‘ilmik, wa astaqdiruka bi qudratik, wa as’aluka min fadhlikal ‘azhîm, fa innaka taqdiru wa lâ aqdir, wa ta‘lamu wa lâ a‘lam, wa anta ‘allâmul ghuyûb.

Allâhumma in kunta ta‘lamu anna hâdzal amra — (sebutkan hajat) — khairun lî fî dînî wa ma‘âsyî wa ‘âqibati amrî faqdurhu lî wa yassirhu lî tsumma bârik lî fîh. Wa in kunta ta‘lamu anna hâdzal amra syarrun lî fî dînî wa dunyâya wa ma‘âsyî wa ‘âqibati amrî ‘âjilihi wa âjilihi fashrifhu ‘annî washrifnî ‘anhu waqdur liyal khaira haitsu kâna tsumma radhdhinî bih.

Artinya (mengikuti terjemah NU Online):
Ya Allah, sungguh aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu, dan aku mohon kuasa-Mu (atas masalahku) dengan kuasa-Mu. Aku mohon sebagian dari karunia-Mu yang agung, karena Engkau Mahakuasa sedang aku tidak kuasa; Engkau mengetahui sedang aku tidak mengetahui. Engkau Maha Mengetahui yang gaib.

Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (sebutkan) lebih baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibatnya, takdirkanlah untukku, mudahkan jalannya, lalu berkahilah. Sebaliknya, jika Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, dunia, kehidupan, dan akibatnya — seketika maupun kelak — maka singkirkanlah persoalan itu, jauhkan aku darinya, takdirkan bagiku kebaikan di mana saja, dan ridhailah aku dengannya.

Sebagian redaksi menambahkan shalawat di awal/akhir doa (sebagaimana anjuran An-Nawawi yang disebut di artikel NU Online lengkap). Keduanya dipakai di masyarakat.

Setelah Istikharah: Bukan Hanya Mimpi

Setelah sholat dan doa, NU Online menganjurkan tetap beraktivitas seperti biasa, tetap mengambil sikap, dan condong ke pilihan yang paling plong, lapang, dan sreg di hati — sambil tetap berusaha secara lahir.

Petunjuk tidak harus lewat mimpi. Jika urusan itu baik menurut Allah, biasanya jalan dimudahkan dan akibatnya baik; jika tidak, sering kali dipersulit atau diganti yang lebih baik (makna yang dikutip NU Online dari Syekh Az-Zabidi). Jangan mengabaikan usaha; doa tanpa usaha menipu diri, usaha tanpa doa cenderung sombong.

FAQ

Berapa rakaat sholat istikharah?

Dua rakaat (selain fardhu), sekali salam.

Apakah harus malam hari / setelah sholat Isya?

Boleh kapan saja di luar waktu terlarang sholat, selama bukan di waktu makruh sholat sunnah mutlak. Yang penting niat dan doa, bukan “jam mistis”.

Boleh diulang?

Boleh, terutama jika hati masih goyah; tetap disertai musyawarah dan usaha.

Apakah niat wajib dilafalkan?

Tidak. Niat di hati cukup; lafal Arab membantu fokus.

Haruskah mimpi sebagai jawaban?

Tidak harus. Kemudahan/kesulitan jalan, ketenangan hati, dan nasehat orang tepercaya juga bagian dari petunjuk.

Sumber Rujukan

  • NU Online, Shalat Istikharah Lengkap: Tata Cara, Doa, dan Terjemahnya (Al-Adzkar; Ihya’ Ulumiddin; hadits Jabir HR. Al-Bukhari).
  • NU Online, Doa Shalat Istikharah (Nihayatuz Zain, Syekh Nawawi Banten).
  • NU Online, Tata Cara dan Doa Shalat Istikharah (batasan perkara mubah).

Penulis

Redaksi Kuttab

Tim redaksi Kuttab Digital menyajikan panduan islami berbasis sumber otoritatif: NU, Muhammadiyah, MUI, dan kitab-kitab mu'tabar. Setiap artikel melewati proses verifikasi sebelum dipublikasikan.

Ukuran Teks Arab 100%
Iklan